
Artis Drama Jepang dengan Bayaran Termahal: Siapa yang Honornya Bikin Melongo?
Kalau kamu selama ini mengira artis Jepang dibayar “ya paling lumayanlah”, siap-siap sedikit melongo.
Di balik drama Jepang yang kelihatannya cuma berdurasi sekitar satu jam per episode, ternyata ada aktor dan aktris papan atas yang honornya bisa mencapai jutaan yen untuk satu episode.
Bahkan, beberapa laporan media Jepang menyebut ada bintang yang bayarannya bisa menembus ¥4–5 juta untuk satu episode.
Kalau dikonversikan secara kasar ke rupiah dengan kurs yang berubah-ubah, nominalnya bisa bikin kita menatap saldo rekening sambil berkata:
“Kayaknya salah lahir gue.” 😭
Tapi ada satu hal penting.
Angka honor artis Jepang bukanlah data resmi yang selalu dipublikasikan stasiun televisi. Sebagian besar angka yang beredar berasal dari laporan media hiburan, sumber industri, atau perkiraan pihak yang mengetahui bisnis produksi.
Jadi artikel ini membahas honor yang pernah dilaporkan, bukan daftar gaji resmi seluruh aktor Jepang.
Dan ternyata, nama-nama di dalamnya bukan kaleng-kaleng.
Kalau ngomong soal bayaran aktor drama Jepang yang pernah diberitakan tinggi, Masato Sakai langsung masuk radar.
Namanya makin melekat di kepala penonton internasional setelah membintangi VIVANT, drama produksi TBS yang punya skala produksi super besar.
Drama ini bukan drama yang modal:
kantor → meja → ngobrol → pulang.
VIVANT justru punya lokasi syuting internasional, adegan aksi, kendaraan, set besar, dan produksi yang jauh lebih ambisius dibanding drama televisi Jepang pada umumnya.
Laporan SmartFLASH pada 2023 menyebut honor Sakai untuk VIVANT berada di kisaran ¥5 juta per episode.
Dalam laporan yang sama, Abe Hiroshi disebut sekitar ¥3,5 juta per episode dan Fumi Nikaido sekitar ¥2 juta. Angka tersebut dikaitkan dengan sumber dari pihak produksi/industri yang dikutip media tersebut.
Jadi kalau satu musim terdiri dari banyak episode, tinggal kalikan saja.
Kalkulator langsung:
“Mas, istirahat dulu. Saya yang capek menghitung.”
Yang menarik, biaya produksi VIVANT sendiri juga disebut sangat tinggi, sekitar ¥100 juta per episode dalam laporan tersebut.
Dengan kata lain, Sakai bukan cuma dibayar karena terkenal. Produksi VIVANT memang diposisikan sebagai proyek televisi berskala besar.
Kalau ada nama perempuan yang sering muncul ketika membicarakan honor tinggi di drama Jepang, Ryoko Yonekura hampir selalu ikut disebut.
Alasannya tentu tidak jauh dari satu karakter ikonik:
Daimon Michiko.
Alias dokter yang kalau sudah ngomong:
“Saya tidak pernah gagal.”
Ya… karakter Doctor-X itu.
Dan ternyata honor sang pemeran utama juga pernah diberitakan tidak main-main.
Laporan media Jepang pernah menyebut honor Yonekura untuk Doctor-X berada di sekitar ¥5 juta per episode, sementara laporan yang lebih baru menyebut angka sekitar lebih dari ¥4 juta per episode.
Bahkan pada 2021, SmartFLASH melaporkan bahwa honor Yonekura disebut sekitar ¥8 juta per episode sebelum kemudian dikurangi menjadi ¥4 juta ketika ia menawarkan agar sebagian honornya dialihkan untuk membantu biaya produksi.
Sekali lagi, ini adalah angka yang dilaporkan media, bukan kontrak resmi yang dipublikasikan.
Namun satu hal jelas:
Nama Yonekura mempunyai nilai komersial yang sangat besar bagi drama tersebut.
Doctor-X sudah memiliki sejarah panjang, rating kuat, dan karakter Daimon Michiko menjadi salah satu ikon drama medis Jepang.
Jadi kalau produser harus mengeluarkan uang besar untuk mempertahankan pemain utamanya?
Secara bisnis, tentu ada konteksnya.
Selanjutnya ada Haruka Ayase.
Nama Ayase bukan cuma terkenal karena wajahnya yang familiar di layar kaca.
Ia juga mempunyai rekam jejak panjang dalam drama populer seperti:
Dan semakin besar popularitas seorang aktor, semakin besar pula nilai komersialnya.
Pada 2022, media Jepang melaporkan honor Ayase untuk Motokare no Yuigonjo naik menjadi sekitar ¥3,5 juta per episode.
Sementara itu, analisis lain pada 2024 dari Asagei memperkirakan “harga yang layak” Ayase sekitar ¥3,5 juta per episode berdasarkan popularitas dan performa dramanya.
Jadi meskipun angka pastinya tidak bisa dianggap sebagai tarif resmi, Ayase jelas berada di kelompok performer televisi Jepang dengan nilai komersial tinggi.
Dan ini menarik.
Karena dalam dunia drama, honor bukan hanya soal:
“Jago akting atau nggak?”
Tetapi juga:
“Seberapa besar orang mau menonton ketika nama dia muncul di poster?”
Itulah yang membuat star power menjadi mata uang tersendiri.
Kalau membicarakan superstar Jepang tanpa menyebut Takuya Kimura, rasanya seperti makan ramen tanpa kuah.
Ada yang kurang.
Kimura sudah menjadi salah satu nama paling dikenal dalam entertainment Jepang selama puluhan tahun.
Dari era SMAP sampai karier solonya, ia terus menjadi salah satu figur besar di televisi dan film Jepang.
Media Jepang pada 2024 melaporkan honor Kimura untuk drama televisi berada di sekitar ¥3 juta per episode.
Angka tersebut disebut dalam konteks drama prime-time dan dibandingkan dengan tarif aktor papan atas lainnya.
Dan menariknya, tarif tersebut tidak otomatis menjadikannya “yang paling mahal”.
Justru di sinilah kita bisa melihat bagaimana struktur honor drama Jepang bekerja.
Nama besar memang penting.
Tapi proyek, stasiun televisi, peran, popularitas terbaru, rekam jejak, dan nilai komersial juga ikut menentukan.
Jadi jangan berpikir:
“Dia terkenal → otomatis paling mahal.”
Dunia entertainment tidak sesimpel itu, bro.
Nah, ini bagian yang menarik.
Karena ketika masuk ke era Netflix, sistem honor tidak selalu lagi dihitung dengan pola:
“Satu episode = sekian juta yen.”
Salah satu contoh yang sering dibicarakan adalah Kento Yamazaki melalui Alice in Borderland.
Serial Netflix tersebut menjadi salah satu live-action Jepang yang mendapatkan perhatian internasional.
Dan laporan Pinzuba pada 2024 menyebut honor Yamazaki untuk satu musim Alice in Borderland berada di kisaran ¥100 juta.
Bukan ¥100 juta per episode.
Per musim.
Namun jangan langsung menghitung:
“8 episode × ¥100 juta = ¥800 juta.”
Tidak begitu.
Laporan tersebut menyebut proses syuting satu musim memakan waktu sekitar lima bulan, sehingga nominal tersebut juga perlu dilihat dalam konteks durasi kerja dan struktur kontrak produksi streaming.
Ini menunjukkan perubahan menarik dalam industri.
Streaming global bisa menciptakan struktur pembayaran yang berbeda dari televisi tradisional.
Jadi seorang aktor tidak selalu harus tampil di televisi Jepang setiap minggu untuk mendapatkan bayaran besar.
Kadang cukup masuk ke proyek streaming dengan skala internasional.
Nah, ini yang sering bikin artikel internet salah kaprah.
Misalnya:
Sakai = ¥5 juta per episode.
Yamazaki = ¥100 juta per season.
Terus langsung dibuat:
“Yamazaki jauh lebih mahal!”
Eits.
Belum tentu.
Karena keduanya menggunakan struktur pembayaran berbeda.
Sakai diberitakan dengan angka per episode untuk serial televisi.
Yamazaki diberitakan dengan angka per musim untuk produksi Netflix.
Durasi syuting juga berbeda.
Jumlah episode berbeda.
Hak distribusi berbeda.
Skala produksi berbeda.
Kontrak eksklusivitas bisa berbeda.
Bahkan sistem bonus atau hak penggunaan tertentu juga bisa berbeda.
Jadi membandingkan keduanya secara langsung seperti membandingkan:
gaji bulanan dengan pendapatan satu proyek.
Sama-sama uang.
Tapi cara menghitungnya beda.
Kenapa Honor Aktor Jepang Bisa Semahal Itu?
Ada beberapa faktor yang biasanya membuat harga seorang aktor naik.
Ini faktor paling gampang dipahami.
Kalau nama seorang aktor saja sudah bisa membuat orang penasaran dengan drama, nilai ekonominya meningkat.
Poster belum keluar.
Trailer belum keluar.
Pemeran utama diumumkan.
Internet:
“WOI INI DRAMA BARU DIA!”
Marketing gratis dari fandom.
Aktor dengan banyak drama sukses memiliki bargaining position lebih kuat.
Produser tidak hanya membeli kemampuan akting.
Mereka juga membeli pengalaman.
Dan tentu saja…
kemungkinan penonton datang karena nama tersebut.
Televisi tradisional masih mempertimbangkan rating, engagement, dan kemampuan sebuah drama menarik perhatian.
Semakin besar nilai komersial sebuah proyek, semakin masuk akal jika aktor utamanya mendapatkan kompensasi lebih tinggi.
Netflix dan platform streaming internasional mengubah permainan.
Drama Jepang sekarang tidak selalu dibuat hanya untuk penonton Jepang.
Serial seperti Alice in Borderland menunjukkan bahwa live-action Jepang bisa menemukan penonton global.
Ketika target pasar menjadi internasional, nilai sebuah proyek juga dapat berubah.
Ini sering dilupakan.
Aktor bukan cuma dibayar berdasarkan jumlah menit muncul di layar.
Syuting bisa berlangsung berbulan-bulan.
Ada latihan.
Perjalanan.
Lokasi luar negeri.
Adegan aksi.
Promosi.
Jadwal eksklusif.
Bahkan terkadang seorang aktor harus menolak proyek lain karena jadwalnya sudah terkunci.
Jadi angka honor harus dilihat bersama durasi kerja dan beban produksinya.
Televisi vs Netflix: Pertarungan Model Lama dan Model Baru
Industri drama Jepang sedang mengalami perubahan.
Televisi masih sangat penting.
Tetapi platform streaming semakin agresif.
Dan perbedaan model bisnis ini bisa memengaruhi honor aktor.
Drama televisi biasanya bekerja dengan jadwal mingguan.
Sementara platform streaming sering memproduksi beberapa episode sekaligus dan memiliki jangkauan internasional.
Itulah sebabnya muncul laporan honor yang kelihatannya “nggak masuk akal” jika dibandingkan dengan tarif televisi.
Contohnya Yamazaki.
Jika laporan ¥100 juta per musim tersebut benar, angka itu menunjukkan bagaimana proyek streaming berskala besar dapat menawarkan struktur kompensasi yang berbeda dari drama televisi konvensional.
Jadi, Siapa yang Paling Mahal?
Nah, jawabannya sebenarnya tidak sesederhana:
“Ini nomor satu.”
Kalau berdasarkan angka per episode yang pernah dilaporkan media, Masato Sakai disebut sekitar ¥5 juta per episode untuk VIVANT, sementara Ryoko Yonekura juga pernah diberitakan berada di kisaran ¥4–5 juta atau lebih, tergantung periode dan laporan yang digunakan.
Haruka Ayase pernah diberitakan sekitar ¥3,5 juta per episode, sedangkan Takuya Kimura sekitar ¥3 juta per episode dalam laporan media yang berbeda.
Untuk streaming, Kento Yamazaki pernah dilaporkan sekitar ¥100 juta untuk satu musim Alice in Borderland.
Jadi daripada membuat ranking seolah-olah itu data resmi, lebih tepat mengatakan:
mereka termasuk nama-nama Jepang yang pernah diberitakan memiliki honor drama sangat tinggi.
Dan justru di situlah ceritanya menjadi lebih menarik.
Yang Bikin Kaget: Honor Aktor Bukan Seluruh Biaya Produksi
Misalnya ada drama dengan biaya produksi puluhan juta yen.
Bukan berarti semua uang tersebut masuk ke kantong pemeran utama.
Budget produksi harus dibagi untuk banyak hal:
aktor + kru + lokasi + set + kamera + kostum + transportasi + post-production + efek visual + musik + promosi + distribusi.
Makanya ketika mendengar:
“Aktor dibayar ¥5 juta per episode.”
Jangan langsung berpikir:
“Wah produser kaya banget.”
Bisa jadi justru proyek tersebut memang membutuhkan budget superbesar.
VIVANT adalah contoh menarik karena laporan SmartFLASH menyebut biaya produksinya sekitar ¥100 juta per episode, jauh di atas angka yang disebut untuk drama prime-time biasa dalam laporan tersebut.
Era Sekarang: Nama Besar Tetap Penting, Tapi Permainannya Berubah
Dulu televisi adalah kerajaan utama.
Sekarang kerajaan tersebut punya tetangga baru.
Netflix.
Prime Video.
Disney+.
U-NEXT.
Dan berbagai platform streaming lainnya.
Persaingan ini membuat aktor papan atas punya lebih banyak jenis proyek untuk dipilih.
Drama televisi masih punya kekuatan.
Film tetap punya pasar.
Streaming menawarkan jangkauan internasional.
Dan ketika sebuah proyek punya potensi global, struktur honor dan kontraknya juga bisa ikut berubah.
Artinya, masa depan bayaran aktor Jepang kemungkinan tidak lagi bisa dibaca hanya dari angka:
“¥X juta per episode.”
Kita akan semakin sering melihat:
per musim, durasi kontrak, eksklusivitas, bonus performa, hak distribusi, dan skala internasional.
Kesimpulan
Kalau kamu mencari artis drama Jepang dengan bayaran termahal, jawabannya tidak bisa dibuat sebagai satu daftar resmi karena Jepang tidak memiliki database publik yang mencatat seluruh honor aktor secara terbuka.
Namun berdasarkan berbagai laporan media Jepang, beberapa nama yang sering muncul dalam pembahasan honor tinggi antara lain:
Masato Sakai Ryoko Yonekura Haruka Ayase Takuya Kimura Kento Yamazaki
Sakai pernah dilaporkan menerima sekitar ¥5 juta per episode untuk VIVANT.
Yonekura pernah dilaporkan berada di kisaran ¥4–5 juta atau lebih per episode untuk Doctor-X, tergantung periode laporan.
Ayase pernah dilaporkan sekitar ¥3,5 juta per episode.
Kimura berada di sekitar ¥3 juta per episode dalam laporan 2024.
Sementara Yamazaki pernah dilaporkan sekitar ¥100 juta untuk satu musim Alice in Borderland.
Tetapi ingat:
semua angka tersebut adalah angka yang dilaporkan atau diperkirakan media, bukan daftar kontrak resmi yang diterbitkan oleh para aktor maupun stasiun televisi.
Dan justru itu yang bikin dunia entertainment Jepang menarik.
Di depan kamera kita melihat drama.
Di belakang kamera ada negosiasi.
Di balik negosiasi ada rating.
Di belakang rating ada iklan.
Dan sekarang…
di belakang semuanya ada algoritma streaming.
Dunia drama Jepang sudah berubah.
Dari televisi menuju streaming.
Dari rating menuju global audience.
Dan dari bayaran per episode menuju kontrak proyek berskala internasional.
Jadi kalau suatu hari kamu melihat aktor Jepang menerima bayaran puluhan atau bahkan ratusan juta yen untuk satu proyek, jangan langsung pingsan.
Mungkin dia memang sedang membawa satu drama yang budget-nya juga bikin dompet kita merasa tidak aman. 😂




